How am I Supposed to Be?
Aku tidak pernah meminta orang untuk bertahan denganku. Aku juga tidak meminta mereka untuk ikut campur dalam hidupku. Karena aku tau aku orang yang tidak tertahankan. Sadar akan sikapku yang terus menerus membuat orang lelah membuatku ingin melepaskan diri dari kehidupan orang lain. Bahkan jika aku diperkenankan aku juga ingin lebas dari hidupku sendiri. Berbagai ucapan terus terlontarkan untukku yang menggores hatiku, seperti:
"org cape nyemangatin elu, elunya ga semangat-semangat"
"Kek ilang juga bil semangat idup org liat lu begitu terus"
"Gua yakin lu nya juga cape ama diri lu kan. Apalagi org"
"Lu harusnya ngeluh ke dokter. Tapi lu suka boong ke dokter kan"
Kalau seandainya aku orang yang cukup normal aku tidak akan mengambil hati tentang hal itu.
Aku jadi terus mempertanyakan, bagaimana harusnya aku hidup? Atau seperti apakah seharusnya hidup? Aku menangisi ini semalaman membuatku sulit bangkit dari kasur perkara aku harus hidup seperti apa?
Aku memang terus tenggelam dalam kegelapanku dan tanpa sadar aku sudah terlalu nyaman dengan lautan itu.
Membuatku berselancar di internet seperti apa seharusnya hidup, namun bukan ini jawaban yang aku cari. Aku juga tau setiap orang memiliki titik lelahnya, hal itu membuatku enggan untuk bertanya perkara aneh yang memenuhi loteng pikiranku. Tidak semua hal bisa aku tumpahkan ke dokterku, salah satunya karena aku people pleaser. Namun terkadang aku juga bertanya akan hal-hal yang mengganggu pikiranku, hampir satu jam aku menghabiskan waktu di ruang konsulku bersama dokter. Memang di hari itu aku seperti hidup kembali tapi kian hari aku kembali merosot mundur dan kembali mati.
Harus seperti apakah aku hidup?
Untuk bangkit dari tidur saja aku harus berusaha keras, aku tau ini juga akan membuat orang lelah denganku. Aku kesulitan menulis akhir-akhir ini juga dikarenakan obatku yang membuatku feeling numb. Bahkan aku kesulitan meluapkan emosiku.
Harus seperti apakah aku hidup?



Comments
Post a Comment