2024

 2024

First of all aku mau berterimakasih untuk Januari sampai dengan Desember, aku masih diberi kesempatan hidup. Berfungsi layaknya manusia. Beraktivitas layaknya manusia. Diberi kesempatan segala hal baik dan buruknya di tahun ini.


Thank you 2024


Tentu dari kita tidak pernah luput dari benda satu ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Bercermin menjadi ritual wajib yang dilakukan sebelum meninggalkan rumah maupun sebaliknya. Hal yang diperhatikanpun beragam. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hingga ke printilan-printilan kecil sekalipun. Mulai dari anakan rambut yang berantakan hingga liur yang masih melekat erat di pipi. 

Tetapi terlepas dari outfit, sudah benar-benarkah kita telah bercermin? Apakah kita sesering itu juga "bercermin"?

Ok mari kita diskusi...

Bercermin yang kita maksud sekarang ini adalah bukan hanya soal pantulan diri tetapi juga jati diri. Seberapa seringkah kita melihat pantulan diri kita ini? Apa yang telah kita lakukan? Apakah yang membawa kita sejauh ini? dan blah blah blah lainnya.





Pernahkah kita berfikir, seringkali perlakuan yang kita dapatkan adalah dampak dari diri kita sendiri?

Atau sama halnya ketika kita sedang dirundung masalah, kerap kita justru malah menyalahkan keadaan, merasa hidup tidak adil "kenapa dunia ini begitu kejam padaku?" Pernahkah kita bisa menjawab pertanyaan ini? Yang bisa saja hal-hal itu terjadi karna faktor dari diri kita. Bukankah apa yang kita tanam itu yang kita tuai? Misalnya saja kita kerap menyia-nyiakan waktu selagi luang tapi di balik itu waktu akan kembali mengintimidasi atas perlakuan kita tadi.





Tapi tentu saja di balik itu semua adalah proses pembelajaran diri. Proses pendewasaan. Masalah yang hilir mudik tentu saja menjadi pelajaran berharga yang bisa kita kutip dari setiap ceritanya. Proses inilah yang mengindahkan cerita kita. Sehingga kita dan yang lainnya tidak akan pernah sama. Setiap orang memiliki tolok ukur masing-masing untuk mengukur seberapa banyakkah kadar kesenangan dan kesedihan yang mampu mempengaruhi diri kita.

Dan pada akhirnya masalah inilah yang memberikan warna bagi kehidupan kita. Memberikan tanjakan dan turunan pada perjalanan hidup kita. Sehingga perjalanan itu menjadi lebih tertantang dan pada saat mencapai tujuan kita akan merasa lebih puas dengan apa yang telah berhasil kita lewati.





Disinilah fungsi cermin bisa kita manfaatkan untuk mengenal siapakah kita. Apa saja yang perlu kita perbaiki. Kitalah yang lebih mengerti dan yang bisa mengontrol diri kita.

Intropeksi diri adalah proses merenung atau memeriksa diri sendiri dengan tujuan untuk memahami perasaan, pikiran, perilaku, dan tindakan yang telah dilakukan. Melalui introspeksi, seseorang bisa menilai kekuatan dan kelemahan dirinya, serta mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki atau dikembangkan.

Proses ini memungkinkan seseorang untuk melihat lebih dalam tentang tujuan hidupnya, nilai-nilai yang dipegang, serta dampak dari keputusan yang diambil terhadap dirinya dan orang lain. Introspeksi diri juga dapat membantu untuk meningkatkan kesadaran diri, pengendalian emosi, dan memperbaiki hubungan interpersonal.

Dalam kesempatan ini aku hendak menyampaikan sesuatu. Pentingnya introspeksi diri. Terkadang kerap sekali kita menganggap diri kita ini korban, padahal bisa saja kitalah yang menjadi ujian bagi orang-orang yang ada di sekeliling kita. Sering kali kita mengabaikan dan menilai apa yang hanya terlihat. Seperti kata pepatah gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Sebelum kita menghakimi orang lain, ada baiknya kita berfikir ribuan kali, "benarkah yang saya pikirkan?", "benarkah yang saya perbuat?" "benarkah keputusan yang saya ambil?". Demikian cuap-cuap basi dari aku sangatlah tolong untuk introspeksi diri. 

Dengan melakukan introspeksi diri secara rutin, seseorang bisa berkembang menjadi individu yang lebih bijaksana, sadar, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik.

Mohon Maaf jika ada salah kata, selamat menyambut tahun baru. semoga segalanya berkah. 


Comments

Popular Posts