Dealing with Anxiety

Dealing with Anxiety

How are we going to start? 

Aku yakin dan percaya setiap orang berjuang dengan dirinya setiap hari. Setiap orang mengalami rasa cemas ataupun gelisah dalam menjalani hari-harinya. Tapi percayakah kamu setiap kadar yang dimiliki orang itu berbeda-beda. Rasa cemas yang dialami orangpun sangatlah beragam, pada dasarnya rasa cemas ini merupakan kondisi yang tergolong wajar sebagai bentuk respon terhadap suatu kondisi yang menyebabkan stress. Pada dasarnya juga ini akan berguna, contohnya seperti saat kita khawatir memikirkan presentasi besok di kantor justru kita akan mencari cara dengan berlatih agar presentasi untuk esok hari akan berjalan lancar. 

Hanya saja bagi beberapa orang rasa cemas itu sedikit berbeda dan akan menyiksanya sepanjang hari, bahkan esoknya dan esoknya lagi. Lebay? Beruntung kamu tidak mengalaminya. Stigma dari masyarakat membuat kita enggan untuk bertutur kata bahkan berekspresi. Ucapan-ucapan seperti "kamu kurang iman", "kamu kurang ibadah", "kamu terlalu jauh dengan Tuhan", "kamu terlalu lebay", "masih banyak orang yang lebih susah dari kamu", "yang kamu alami itu bukanlah apa-apa", "aku lebih susah dari kamu", sadarkah kita bahwa perkataan-perkataan seperti ini seolah membuatnya "tidak nyata" di dunia ini, tidak mengakui keberadaannya bahkan sampai tidak mengakui validasi perasaaannya. Bukankah itu kejam?

Sedih, cemas dan berbagai emosi lainnya itu fitrah manusia. Menjadi beriman bukan tidak berarti tidak pernah membuatmu merasa sedih dan terpuruk. Justru menjadi seorang yang beriman mengubah setiap emosi itu menjadi hikmah dan menjadikan hal tersebut menjadi suatu pemecahan masalah. 

Bayangkan ketika baru membuka mata dari lelapnya tidurmu, kamu merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman kemudian kamu membrowsing tentang itu dan menghasilkan jawaban yang beragam terlebih menemukan jawaban yang fatal seketika membuat bahumu merosot hingga ke lantai. Dan itu mempengaruhi sepanjang harimu. Kamu akan terus fokus dengan rasa tidak nyaman itu bahkan setiap detak jantungmu akan kamu hubungkan dengan ketidaknyamanan itu. Berbagai kemungkinan itu terus kamu simpan di dalam pikiranmu sehingga merusak harimu, merusak nafsu makanmu, merusak jam tidurmu bahkan hubunganmu dengan orang-orang yang ada disekelilingmu. Perasaaan itu sungguh tidak nyaman. Bagaimana mungkin kamu akan nyaman jika kamu kerap mengvonis ketidaknyamanan itu menjadi suatu hal yang menyeramkan seolah hidupmu akan berujung kematian. Bahkan ketika tubuh dan pikiranmu lelah, kamu ingin merebahkan tubuh serta pikiranmu namun pikiran burukmu mengacaukan segalanya dan stuck di kepalamu sehingga mereka berhasil membajak seluruh perintah tidur yang ada di otakmu. 

Begitulah kira-kira. 

Setelah sekian lama bergelut dengan semua pikiran itu dan atas penghakiman dari manusia, kamu akan terus mengurung diri dengan tidak mengakui perasaanmu itu, seolah semuanya harus baik-baik saja. Dan dipaksa untuk baik-baik saja. Takut akan penghakiman manusia. Hal itu akan terus membajirimu dengan kenangan buruk yang terlintas hinga self-talk yang kamu lakukan akan terus berubah menjadi negative. Sehingga tidak dapat membangun nilai positive terhadap diri sendiri. 

We cant solve our problems with the same level of thinking that created them kalo kata Bapak Albert sih begitu. So be kind, be nice dan hargai setiap perasaan yang ada. 

Sampai jumpa di lain waktu. Selamat malam dan selamat beristirahat. (baterai laptopku habis, kelanjutannya kapan-kapan saja hihihi).

Byeee

Comments

Popular Posts